Finansial

5 Tips Keuangan Generasi Sandwich Jelang Perayaan Imlek 2026

5 Tips Keuangan Generasi Sandwich Jelang Perayaan Imlek 2026
5 Tips Keuangan Generasi Sandwich Jelang Perayaan Imlek 2026

JAKARTA - Momentum Tahun Baru Imlek sering kali dipandang sebagai simbol keberuntungan dan awal yang baru. Namun, di balik kemeriahan lampion dan tradisi berbagi angpao, terdapat realitas yang cukup menantang bagi para pekerja di Indonesia, khususnya mereka yang berada dalam kelompok "generasi sandwich". Perayaan ini menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan kembali bagaimana tanggung jawab finansial yang besar harus dipikul demi menghidupi dua generasi sekaligus: orang tua dan anak.

Kondisi ini bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan didukung oleh data yang cukup mengkhawatirkan. Survei dari Sun Life menunjukkan bahwa 90% pekerja Indonesia saat ini menanggung kebutuhan orang tua sekaligus anak. Beban ganda ini berdampak langsung pada rencana masa depan para pekerja tersebut. Sebanyak 40% responden mengaku menurunkan ekspektasi gaya hidup saat pensiun, sementara 23% memperkirakan harus menunda pensiun atau tetap bekerja setelah melewati usia pensiun akibat tekanan ekonomi yang ada.

Keseimbangan Bakti Keluarga dan Batas Finansial yang Sehat

Budaya mendukung orang tua adalah pilar yang sangat dihormati dalam masyarakat Asia. Namun, tanpa pengelolaan yang bijak, niat mulia ini bisa menjadi beban yang tidak berkelanjutan. Data menunjukkan bahwa 71% responden masih membutuhkan tambahan penghasilan untuk menjaga stabilitas finansial pribadi mereka. Hal ini menandakan pentingnya keseimbangan antara bakti kepada keluarga dan keberlanjutan kondisi keuangan sendiri, agar dukungan yang diberikan tidak justru mengorbankan masa depan. Generasi sandwich perlu menetapkan batas yang sehat agar bantuan yang diberikan tidak merusak fondasi ekonomi mereka sendiri di masa depan.

Pensiun: Antara Kebutuhan untuk Bertahan dan Pilihan Hidup

Pandangan mengenai hari tua kini mulai bergeser. Pensiun bukan lagi soal usia, tapi soal kesiapan. Fakta bahwa 77% responden memperkirakan akan tetap bekerja setelah usia pensiun mencerminkan adanya ketidakpastian. Bagi sebagian orang, keputusan ini merupakan pilihan, namun bagi lainnya menjadi kebutuhan karena keterbatasan persiapan. Momentum Imlek yang identik dengan awal baru dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi apakah rencana bekerja lebih lama merupakan strategi sadar atau justru akibat belum adanya perencanaan yang matang.

Bahaya Menunda Perencanaan Keuangan di Masa Produktif

Salah satu masalah utama yang ditemukan dalam survei adalah perilaku menunda. Perencanaan yang terlambat membuat pilihan yang tersedia di masa depan menjadi semakin sempit. Survei menunjukkan 24% responden belum memiliki rencana pensiun sama sekali. Bahkan, 34% lainnya baru mulai merencanakan dalam dua tahun sebelum berhenti bekerja. Padahal, perencanaan yang dimulai lebih awal memberikan ruang yang lebih luas untuk fleksibilitas dan pilihan di masa depan. Semakin cepat seseorang menyadari pentingnya dana pensiun, semakin ringan beban yang harus ditanggung di hari tua nanti.

Literasi Digital dan Bijak dalam Mengolah Informasi Finansial

Di era modern, akses terhadap informasi keuangan menjadi sangat mudah berkat teknologi. Penggunaan generative AI untuk mencari informasi finansial kini mengalami peningkatan, dari 13% menjadi 30% responden. Memang, akses informasi yang semakin mudah sangat membantu dalam memahami berbagai opsi keuangan yang ada. Namun, perlu diingat bahwa keputusan finansial jangka panjang tetap membutuhkan pertimbangan menyeluruh, bukan hanya berdasarkan informasi singkat. Literasi finansial yang baik harus menjadi resolusi baru agar tidak terjebak dalam informasi yang kurang akurat.

Kesehatan sebagai Investasi Jangka Panjang yang Utama

Aspek terakhir yang tidak kalah penting adalah keterkaitan antara kondisi fisik dengan stabilitas keuangan. Kesehatan adalah aset jangka panjang yang sering kali terlupakan hingga masalah datang. Sebanyak 58% responden yang merasa lebih optimistis terhadap masa pensiun menyebut kondisi fisik yang lebih baik sebagai alasan utama. Sebaliknya, kesehatan yang menurun menjadi faktor yang mempercepat pensiun bagi sebagian responden. Memelihara kesehatan bukan hanya soal kenyamanan fisik, melainkan strategi untuk mencegah pengeluaran medis yang tidak terduga yang dapat menguras dana pensiun.

Tantangan yang dihadapi generasi sandwich memang nyata, namun bukan berarti tidak ada jalan keluar. Albertus Wiroyo, Presiden Direktur Sun Life Indonesia, menekankan pentingnya peran pendampingan finansial. “Semakin banyak orang Indonesia yang umurnya lebih panjang. Namun, terlalu banyak yang masih tidak yakin apakah mereka bisa pensiun dengan nyaman," ungkapnya.

Beliau menambahkan bahwa inilah saatnya bagi masyarakat untuk mencari bimbingan yang tepat. "Itulah mengapa peran institusi keuangan semakin penting: menyediakan panduan dan solusi yang mengubah ketidakpastian menjadi pemberdayaan, serta membantu masyarakat membangun masa depan di mana pensiun dibentuk oleh peluang, bukan tekanan.”

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index