Pertanian

Garitan Kalongliud Jadi Model Pertanian Sirkular Terpadu Berkelanjutan

Garitan Kalongliud Jadi Model Pertanian Sirkular Terpadu Berkelanjutan
Garitan Kalongliud Jadi Model Pertanian Sirkular Terpadu Berkelanjutan

JAKARTA - Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, kini menjadi contoh nyata penerapan pertanian sirkular terpadu yang berhasil. 

Program Garitan Kalongliud digagas Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor ANTAM bekerja sama dengan masyarakat desa. Program ini bukan hanya sekadar bantuan sosial, tetapi juga model pertanian berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial.

Menurut Wisnu Danandi Haryanto, Sekretaris Perusahaan PT ANTAM Tbk, “Program Garitan Kalongliud menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga mencakup penguatan ekonomi dan ketahanan sosial.” Dengan pendekatan kolaboratif ini, desa yang sebelumnya memiliki lahan tidur kini telah berubah menjadi lahan produktif yang efisien.

Program ini berhasil mengembalikan 35 hektar lahan tidur menjadi produktif. Selain itu, pemanfaatan limbah lokal, termasuk kotoran ternak domba, diolah menjadi pupuk organik.

Total sekitar 25 ton limbah kotoran domba dimanfaatkan, sehingga penggunaan pupuk kimia dapat ditekan hingga 50 persen. Upaya ini menandai keberhasilan awal integrasi praktik pertanian modern dengan pendekatan sirkular di tingkat desa.

Efisiensi Air dan Pemulihan Lingkungan

Selain pemanfaatan limbah, program Garitan Kalongliud juga menekankan efisiensi penggunaan sumber daya air. Sistem irigasi tetes diterapkan di lahan-lahan budidaya, meningkatkan efisiensi konsumsi air hingga 60 persen. Penerapan teknologi ini sangat penting untuk wilayah yang sebelumnya mengalami tekanan sumber daya air.

Pemulihan lingkungan juga dilakukan melalui penanaman 3.000 pohon di sempadan Sungai Cinyurug. Aksi ini membantu menurunkan emisi karbon sekitar 21,5 ton CO₂eq per musim tanam. 

Langkah ini menjadi bukti bahwa pertanian sirkular bukan sekadar meningkatkan produktivitas, tetapi juga menekan dampak negatif terhadap lingkungan. Dengan menggabungkan praktik pertanian modern dan konservasi alam, desa Kalongliud menjadi contoh keberhasilan pertanian ramah lingkungan.

Dampak Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Petani

Program Garitan Kalongliud juga menunjukkan dampak positif secara ekonomi bagi masyarakat. Pendapatan kelompok tani meningkat hingga 65 persen, sementara biaya pupuk turun sekitar 50 persen. 

Pada periode budidaya cabai 2024–2025, kegiatan usaha mencatatkan keuntungan sebesar Rp246.258.000. Evaluasi berbasis Social Return on Investment (SROI) menunjukkan nilai 4,34, artinya setiap satu rupiah investasi menghasilkan manfaat sosial lebih dari empat rupiah.

Sebelum program ini berjalan, petani bekerja secara individual dan sangat bergantung pada tengkulak. Biaya produksi tinggi dan serangan hama keong sering merusak tanaman. 

Kini, petani terorganisir dalam empat kelompok resmi yang dibentuk melalui Surat Keputusan Desa. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berperan sebagai simpul pasar, memperkuat distribusi produk dan posisi tawar petani. Hal ini membuat sistem produksi dan pemasaran menjadi lebih efisien serta berkelanjutan.

Inovasi Lokal dan Pemberdayaan Kelompok Rentan

Inovasi lokal turut dikembangkan dalam program ini. Keong yang sebelumnya menjadi hama kini dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik cair. 

Program Garitan Kalongliud juga menjangkau kelompok masyarakat rentan, termasuk buruh tani, lansia, anak-anak, keluarga pra-sejahtera, dan mantan pelaku pertambangan ilegal. Total penerima manfaat langsung mencapai 869 orang, sedangkan penerima manfaat tidak langsung sebanyak 9.874 orang.

Sebanyak 68 individu dari kelompok rentan dilibatkan aktif dalam sistem ekonomi desa. Dengan keterlibatan ini, setiap lapisan masyarakat dapat merasakan dampak program. 

Indeks kepuasan masyarakat terhadap program ini mencapai 90,82 persen, menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dan partisipatif memberikan hasil nyata dalam mengangkat kesejahteraan sosial sekaligus menguatkan ekonomi lokal.

Peran Local Hero dan Replikasi Model Pertanian Terpadu

Keberhasilan Garitan Kalongliud tidak lepas dari peran Kang Wahyu, penggerak utama di tingkat desa. Ia mendorong adopsi inovasi pertanian, kolaborasi komunitas, dan penguatan kelembagaan petani. Rumah Belajar Garitan kini menjadi pusat pembelajaran dan inovasi, telah dikunjungi lebih dari 696 pengunjung lokal dan nasional.

Program ini mulai direplikasi di desa lain, menjadikan Kalongliud sebagai model pertanian sirkular terpadu yang dapat diadopsi di wilayah lain. 

Dengan kombinasi produktivitas, konservasi lingkungan, dan pemberdayaan sosial, Garitan Kalongliud memperlihatkan bagaimana integrasi praktik pertanian modern dan kolaborasi masyarakat dapat menghasilkan dampak berkelanjutan. 

Program ini menjadi referensi penting bagi pengembangan desa berbasis potensi lokal serta strategi keberlanjutan perusahaan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index